Monday, 30 October 2023

Budaya Positif: SMA Negeri 1 Bantarkawung

 



Budaya positif di SMA Negeri 1 Bantarkawung

        SMA Negeri 1 Bantarkawung adalah sekolah menengah yang terletak di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sekolah ini memiliki komitmen kuat terhadap pembentukan budaya positif di lingkungan sekolah demi meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran yang berkualitas. Dalam dokumen ini, kita akan mengeksplorasi implementasi budaya positif di sekolah dan manfaatnya bagi siswa dan guru.

Visi dan Misi SMA Negeri 1 Bantarkawung

Berakhlak Mulia, Terampil, Unggul dalam Prestasi, Berwawasan Global, Peduli pada Pelestarian , Pencegahan Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup.

Indikator Visi SMA Negeri 1 Bantarkawung:

1.     Semua peserta didik telah mencapai batas ketuntasan pada semua aspek (Sikap, Pengetahuan, dan Ketrampilan)

2.     Rasio lulusan yang masuk ke Perguruan Tinggi dibanding yang tidak meneruskan mengalami peningkatan

3.     Rasio lulusan yang mempunyai keterampilan/kecakapan hidup yang diterima oleh dunia kerja dibanding yang menganggur mengalami peningkatan

4.     Persentase siswa yang berprestasi dan memenangi kejuaraan mengalami peningkatan

5.     Persentase siswa yang melakukan pelanggaran tata tertib dan pelanggaran moral mengalami penurunan

6.     Persentase warga sekolah yang memiliki budaya membaca, menulis, dan meneliti mengalami peningkatan.

7.     Pengoptimalan seluruh komponen sekolah baik dalam bidang akademis maupun non akademis sehingga bersaing secara global

8.     Kepedulian warga sekolah dalam melestarikan lingkungan yang asri dengan penghijauan mengalami peningkatan

9.     Upaya warga sekolah dalam mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan mengalami peningkatan

10.  Kepedulian warga sekolah terhadap lingkungan melalui pengolahan sampah mengalami peningkatan.

 

Definisi Budaya Positif

Budaya positif adalah semangat kolektif dari sebuah komunitas untuk membuat lingkungan yang sehat, harmonis, dan optimistis dengan prinsip kejujuran, toleransi, percaya diri, dan saling menghargai.

Pentingnya Budaya Positif di Sekolah

Budaya positif merujuk pada sikap dan perilaku yang mempromosikan hubungan yang sehat dan pertumbuhan secara sosial dan emosional. Penting bagi sekolah untuk memiliki budaya positif karena menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan nyaman bagi siswa dan staf.

Implementasi Budaya Positif

Bimbingan konseling

Program bimbingan konseling aktif untuk membantu siswa menangani masalah emosional dan akademik mereka.

Sosialisasi kepada Guru dan Staf

Sosialisasi dilakukan untuk membantu Guru dan staf sekolah memahami pentingnya budaya positif dan bagaimana cara menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari.

Kebijakan Sekolah yang Jelas

Kebijakan tertulis tentang budaya positif yang diterapkan secara konsisten untuk memastikan semua siswa dan staf mendapatkan manfaatnya.


Contoh Budaya Positif di Sekolah yang Bisa Diterapkan


1. Melaksanakan Tata Tertib Sekolah

Di setiap sekolah pastinya ada tata tertib yang harus dipatuhi oleh setiap siswa. Tata tertib berfungsi sebagai pembatas antara yang boleh dan tidak boleh dan antara yang baik dan tidak baik bagi warga sekolah.


Sekolah membuat tata tertib untuk disepakati dan dijalankan bersama. dengan melaksanakan dan menaati tata tertib maka situasi di sekolah akan berjalan dengan tertib dalam waktu yang lama. Program sekolah juga jadi berjalan sesuai dengan aturan main. Kebiasaan positif ini harus terus berkembang hingga menjadi karakter.


2. Cinta Kebersihan dan Lingkungan

Penanaman rasa cinta kebersihan adalah budaya positif yang harus dimiliki setiap siswa. Di sini, cinta kebersihan artinya menjaga kebersihan terhadap diri sendiri dan juga terhadap lingkungan sekolah.


Kebersihan terhadap diri sendiri bertujuan untuk membentuk pribadi siswa yang sehat dan jiwa yang kuat. Siswa juga akan dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik setiap harinya.


Untuk rasa cinta kebersihan terhadap lingkungan sekolah, siswa dapat membuat jadwal piket membersihkan kelas dan halaman sekolah supaya bersih. Dengan lingkungan sekolah yang bersih, maka akan tercipta udara segar dan belajar jadi nyaman.


3. Kejujuran

Karakter kejujuran juga sangat penting untuk ditanamkan di lingkungan sekolah, bukan hanya untuk siswa, tetapi guru juga sebagai tenaga pengajar. Kejujuran adalah investasi yang berharga terciptanya komunikasi dan hubungan yang sehat antar manusia.


Dampak positif dari menjadi manusia yang jujur ada untuk berbagai sisi kehidupan. Apalagi di masa sekarang di mana kejujuran mahal harganya. Karakter ini harus sudah dibangun dan ditanamkan sejak usia dini. Menjadi orang yang dipercaya orang lain adalah hal yang sangat indah untuk dimiliki seseorang.


4. Religius

Dengan menanamkan karakter religius sejak usia dini, maka akan jadi langkah awal menumbuhkan sikap dan perilaku keberagamaan pada siswa. Upaya penanaman nilai religius harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Misalnya di tahap masa kanak-kanak, mereka ada di tahapan meniru dari yang dilihat dan didengar.


Yang bisa dilakukan oleh sekolah adalah dengan membiasakan berdoa sebelum memulai kegiatan dan selalu bersyukur kepada Tuhan YME. Peran guru sangatlah penting di sini untuk jadi teladan, pengingat, dan sebagai contoh untuk melaksanakan kegiatan bersifat religius.


5. Kepedulian

Sikap peduli adalah tindakan yang selalu ingin memberi bantuan kepada orang lain yang membutuhkan bantuan. Kepedulian siswa dapat ditanamkan di sekolah melalui berbagai cara, misalnya dengan menjenguk dan mengumpulkan uang dari teman-teman saat ada teman sekelas atau guru yang sakit. Dengan memiliki kepedulian dalam diri siswa sejak dini, maka mereka akan disenangi oleh banyak teman dan jadi terbiasa untuk saling tolong menolong.


6. Sifat Toleransi

Sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” dengan segala keberagaman yang ada di dalamnya. Karena itulah sangat penting untuk memiliki sifat toleransi antar sesama. Di sekolah pastinya berkumpul siswa dan guru dari berbagai agama dan suku. Contoh hal yang bisa dilakukan untuk menyongsong sifat toleran adalah dengan tidak memaksakan pendapat sendiri kepada orang lain dan saling menghargai perbedaan dengan sesama.


7. Sikap Nasionalis

Sikap nasionalis atau cinta tanah air dapat diimplementasikan dengan cara berpikir dan bertindak untuk menaruh kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Karakter ini dapat ditanamkan dengan pelaksanaan upacara bendera dan menghormati tokoh bangsa. Sikap ini akan meningkatkan rasa cinta terhadap bangsa.

Manfaat Budaya Positif Bagi Siswa dan Guru

Untuk Siswa

Untuk Guru

Meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri.

Meningkatkan keterlibatan akademik siswa.

Memperkuat hubungan sosial dan emosional dengan teman, guru, dan keluarga.

Menciptakan lingkungan kerja yang positif dan menyenangkan.

Memberikan keterampilan sosial dan emosional yang sangat dibutuhkan di dunia kerja.

Menghilangkan stres dan penat dengan suasana positif.

Tantangan dalam Menerapkan Budaya Positif

“Perubahan tidak terjadi secara instan. Perlu waktu, kesabaran, dan kerja keras untuk menerapkan dan mempertahankan perubahan.”

Mengubah budaya sekolah tidaklah mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Ada tantangan tertentu yang perlu dihadapi seperti resistansi terhadap perubahan, keterbatasan sumber daya, dan tantangan dalam mengevaluasi keberhasilan program.

Kesimpulan Budaya Positif

Budaya positif di SMA Negeri 1 Bantarkawung merupakan kebijakan yang sangat dihargai dan harus diterapkan secara terus-menerus. Kegiatan-kegiatan berbasis budaya positif telah terbukti memberikan manfaat bagi siswa, guru, dan staf sekolah.

Monday, 12 September 2022

Kelas X Sumatif Tengah Semester Gasal Tahun 2022/2023 Bab 1 dan 2



Kelas X Sumatif Tengah Semester Gasal Tahun 2022/2023 Bab 1 dan 2

Waktu Pelaksanaan:
Hari/Tanggal   : September 2022
Waktu             :  (90 menit)

Silahkan cilck Link berikut ini 

https://bit.ly/KelasXSTSGasalBAB122022

Password Menghubungi Guru Geografi

Materi yang di ujikan 

1. BAB I Pengantar Ilmu Geografi
2. BAB II Pemetaan, Penginderaan Jauh dan sistem Informasi Geografi

Tata-tertib pelaksanaan Sumatif Tengah Semester Gasal Mata pelaran Geografi.
1. Silahkan sebelum mengerjakan soal untuk ber Do'a terlebih dahulu
2. Siswa hanya diperbolehkan mengerjakan soal satu kali saja
3. Bentuk soal Pilihan Ganda dan Essay dengan waktu pengerjaan 90 Menit
4. Siswa dilarang melakukan tindakan kecurangan dalam bentuk apapun saat mengerjakan soal .
5. Mengisi Identitas siswa dengan sebenar-benarnya
6. Pilihlah jawaban yang tepat dengan menekan Click/memilih di jawaban yang di anggap benar
7. Pastikan setelah menjawab soal menekan Click/memilih "KIRIM"
 
...Selamat Mengerjakan...

Wednesday, 25 May 2022

Kelas X. Sem 2. Penelitian Geografi

Penelitian Geografi

Menurut Epon Ningrum dalam diktat yang berjudul Metode Penelitian Geografi (2008), penelitian geografi merupakan kegiatan ilmiah yang dilakukan secara sistematis untuk memecahkan permasalahan dalam lingkup geografi. Obyek yang diteliti dalam penelitian geografi haruslah berkaitan dengan geografi. Penelitian ini menjadikan ruang di sebuah region (bagian wilayah yang luas) menjadi obyek penelitiannya. 

Tujuan utama diadakannya penelitian geografi ialah untuk mencari data atau permasalahan di lapangan dan berusaha memecahkan permasalahan tersebut dari sudut pandang geografi.

Penelitian geografi adalah kegiatan ilmiah yang dilakukan untuk mencari kebenaran atau memecahkan masalah seputar fenomena geografi. Fenomena geografi yang dimaksud adalah fenomena geosfer, yaitu meliputi atmosfer (lapisan udara), biosfer (makhluk hidup), hidrosfer (lapisan air), litosfer (lapisan kulit bumi), dan antroposfer (manusia dan lingkungannya).

Ragam jenis-jenis penelitian geografi sebenarnya tidak jauh berbeda dari riset di bidang ilmu lainnya. Namun, ada ciri khas penelitian geografi yang membedakan bidang ini dengan disiplin lainnya. Ciri khas itu berkaitan dengan implementasi pendekatan keruangan, ekologi, serta kompleks wilayah di penelitian geografi. Tiga pendekatan itu menunjukkan bahwa kajian geografi tidak hanya menyangkut aspek fisik (fenomena alam), tetapi juga sosial (manusia).

Penelitian geografi bisa diklasifikasikan jadi sejumlah jenis, berdasarkan tujuan, bentuk, dan metode penelitian.

a.. Jenis Penelitian Geografi Berdasarkan Metode Penelitian 

  1. Penelitian Kualitatif: penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan dan menjelaskan kualitas atau keunggulan dari suatu fenomena yang tidak dapat diukur atau dihitung jumlahnya. 
  2. Penelitian Kuantitatif: penelitian yang dilakukan untuk mendapat informasi atau data yang berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin diketahui.

 b. Jenis Penelitian Geografi Berdasarkan Tujuannya 

  1. Penelitian eksploratif: penelitian yang bertujuan guna mengembangkan gagasan dasar tentang satu topik masalah yang belum diketahui sebelummya, sehingga mampu memberikan definisi atau penjelasan mengenai konsep atau pola. Penelitian ini dikembangkan untuk menjawab pertanyaan what (apa masalahnya). Sifat penelitian ini adalah kreatif, fleksibel, terbuka dan semua sumber dianggap penting permasalahan. 
  2. Penelitian deskriptif: penelitian yang bertujuan untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai fenomena geosfer dengan mendeskripsikan sejumlah variabel yang terkait dengan fenomena yang diteliti. Penelitian ini menekankan pada upaya menemukan makna baru, menjelaskan sebuah kondisi, dan mengkategorikan informasi geosfer sesuai fakta yang ada. 
  3. Penelitian eksplanatif: penelitian yang bertujuan untuk menguji suatu teori atau hipotesis guna memperkuat atau bahkan menolak teori atau hipotesis pada penelitian sebelumnya. Penelitian ini bersifat memberikan penjelasan tentang pengetahuan yang teorinya sudah ada sebelumnysehingga terkumpul berbagai generalisasi empiris.


c. Jenis Penelitian Geografi Berdasarkan Bentuknya 

  1. Studi kasus: penelitian mendalam terhadap satu aspek lingkungan sosial, termasuk manusia, yang dilakukan guna menghasilkan gambaran lengkap suatu masalah geografi. Studi kasus dilakukan dengan cara studi lapangan dan wawancara. 
  2. Survei: penelitian yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang jumlahnya banyak dan dalam jangka waktu tertentu. Survei dilakukan untuk menguji kebenaran hipotesis dan mendeskripsikan hubungan antarvariabel. 
  3. Eksperimen: penelitian untuk mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel lain dalam kondisi terkontrol. Jadi, penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian suatu perlakukan terhadap subjek riset.


Sifat-Sifat Penelitian Geografi

Dalam melakukan penelitian geografi harus memahami sifat-sifatnya. Berikut ini sifat-sifat penelitian geografi:

a. Menggunakan ilmu pengetahuan sebagai landasan dan dilakukan secara sistematis.

b. Penelitian diawali dengan penemuan masalah geosfer.

c. Menganalisis lebih mendalam terhadap suatu kajian geosfer.

d. Menguji hasil penelitian yang telah dilakukan agar hasilnya lebih akurat.

e. Tujuan penelitian geografi adalah memecahkan suatu permasalahan


Penelitian geografi mempunyai tujuan sebagai berikut :

1. Menerapkan hasil penelitian geografi untuk kepentingan pemecahan masalah sosial, khususnya di wilayah penelitian, dan di seluruh wilayah yang mengalami masalah yang sama.

2. Menerapkan hasil penelitian geografi bagi kepentingan hidup manusia masa kini dan masa yang akan datang.

3. Menyumbangkan hasil penelitian geografi bagi perencanaan dan pengembangan daerah, serta bagi kepentingan perencanaan dan pengembangan kehidupan.

4. Melakukan evaluasi pembangunan yang telah atau sedang berlangsung

5. Menguji kebenaran hipotesis yang di ajukan terhadap masalah yang diteliti.

6. Menyumbangkan konsep, teori, atau prinsip baru yang ditemukan pada penelitian bagi kepentingan pengambangan ilmu geografi.


Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data Penelitian Geografi

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali fenomena alam yang terjadi baik gempa bumi, hujan, banjir, maupun gerhana. Saat ini, kita memiliki pengetahuan yang cukup untuk bisa menjelaskan dan memahami proses terjadinya fenomena tersebut. Hal ini dikarenakan adanya suatu penelitian geografi, sehingga bisa memecahkan masalah yang terkait dengan fenomena geografis tersebut.

Salah satu bagian penting dalam penelitian geografi ini adalah pengumpulan data. Tanpa adanya data, maka analisa penelitian tidak dapat dilakukan. Data adalah bahan keterangan berupa himpunan fakta, angka, huruf, gambar, grafik, table, lambing, onjek, kondisi, dan situasi yang dapat dijadikan sebagai dasar kajian. Data merupakan bahan baku informasi dalam penelitian geografi.

Teknik pengumpulan data adalah cara yang digunakan untuk mendapatkan data yang diperlukan untuk melakukan penelitian. Dalam penelitian geografi terdapat sedikitnya 5 teknik pengumpulan data yaitu observaasi lapangan, penginderaan jauh, wawancara, survei, dan studi dokumenter.

Penginderaan Jauh

Dalam teknik ini, data diperoleh menggunakan alat yang disebut sensor yang dipasang pada wahana di udara atau diangkasa luar tanpa kontak langsung dengan objek yang diamati. Jenis wahana yang dapat digunakan dalam teknik pengambilan data ini antara lain balon udara, pesawat terbang, satelit, maupun drone.

Observasi Lapangan

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara melihat langsung fenomena dan masalah geografis yang ingin dikaji. Teknik observasi ini paling banyak digunakan untuk penelitian geografi, karena bertujuan untuk memperoleh data konkret secara langsung dari lapangan.

Berdasarkan pelaksanaannya, observasi lapangan ini dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu observasi partisipasi atau peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatan pengamatan dilapangan,  dan observasi nonpartisipasi atau peneliti tidak melibatkan diri. Sedangkan pengolahan data nya juga dibagi di bagi 2 menjadi data kualitatif dan data kuantitatif.

Wawancara

Teknik pengumpulan data kali ini diperoleh dengan melakukan komunikasi langsung antara peneliti dan narasumber. Komunikasi berlangsung dalam bentuk Tanya jawab sambil bertatap muka antara peneliti dan responden atau narasumber.

Survei

Melalui teknik ini, data diperoleh dengan cara memberikan daftar pertanyaan tertulis untuk diisi atau dijawab responden. teknik ini bertujuan untuk mengetahui pendapat, pengalaman, dan sikap manusia terhadap fenomena geografi yang terjadi.

Instrument yang digunakan dalam survei adalah angket atau kuisoner. Berdasarkan model pertanyaaannya, angket dapat dibedakan menjadi 4 jenis yaitu angket dengan pertanyaan tertutup, dengan pertanyaan terbuka, semiterbuka, dan kombinasi terbuka dan tertutup.

Studi Dokumenter

Melalui teknik ini, data diperoleh dengan menggunakan sumber dokumen tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian. Studi dokumen bertujuan untuk mendapatkan kelengkapan data dari hasil penelitian terdahulu atau untuk mengkaji dari konsep maupun teori yang berlaku dan berkembang saat ini.


Jenis Data Penelitian Geografi

Sebelum dilakukan penelitian, Anda harus mengetahui data seperti apa yang Anda cari.

1. Berdasarkan Sumber

Berdasarkan cara memperolehnya atau sumbernya, data dibedakan menjadi data primer dan data sekunder.

a. Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan dari orang pertama dan diolah oleh organisasi atau perorangan. Data primer ini diperoleh langsung dari reponden atau objek yang diteliti, serta ada hubungannya dengan yang diteliti.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain yang sebelumnya telah mengumpulkan data dan mengolahnya secara umum.


2. Berdasarkan Sifat

Berdasarkan sifatnya, maka data dibedakan menjadi data kualitatif dan data kuantitatif

a. Data Kualitatif

Data kualitatif merupakan data yang tidak berbentuk angka, tetapi lebih banyak berupa deskripsi, ungkapan, atau makna-makna tertentu yang harus diungkap peneliti. Data kualitatif berfungsi untuk menjelaskan secara deskriptif suatu permasalahan.

b. Data Kuantitatif

Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka yang hasilnya bisa diolah dan dianalisis. Selain itu, data kuantitatif juga bisa berasal dari data kualitatif yang ditransformasikan menjadi angka lewat kode-kode sesuai jenjangnya.


PENGERTIAN POPULASI DAN SAMPEL DALAM PENELITIAN

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi atau studi populasi atau study sensus (Sabar, 2007).

Sedangkan menurut Sugiyono pengertian populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2011:80).

Jadi populasi bukan hanya orang tapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu.

  • Penelitian sample baru boleh di laksanakan apabila keadaan subyek di dalam populasi benar-benar homogen
  • Kita melakukan penelitian sampel dari pada melakukan penelitian populasi karna penelitian sampel memiliki beberapa keuntungan, yaitu:
  • Karna menghemat dari segi waktu, tenaga dan biaya karna subyek penelitian sample relative lebih sedikit di banding dengan study populasi
  • Di banding dengan penelitian populasi penelitian sample lebih baik karna apabila penelitian populasi terlalu besar maka di khawatirkan ada yang terlewati dan lebih merepotkan
  • Pada penelitian populasi akn terjadi kelelahan dalam pencatatan dan analisisnya
  • Dalam penelitian populasi sering bersifat destruktif
  • Adakalanya penelitian populasi tidak lebih baik di laksanakan karna terlalu luas populasinya.

Pengertian dari sampel adalah sebagian dari subyek dalam populasi yang diteliti, yang sudah tentu mampu secara representative dapat mewakili populasinya (Sabar,2007).


Menurut Sugiyono sampel adalah bagian atau jumlah dan karakteritik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, missal karena keterbatan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti akan mengambil sampel dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representative (Sugiyono,2011).


Ada empat parameter yang bisa dianggap menentukan representativeness sampel (sampel yang benar-benar mencerminkan populasinya), yaitu:

1. Variabilitas populasi

Variabilitas populasi merupakan hal yang sudah “given”, artinya peneiti harus menerima sebagaimana adanya, dan tidak dapat mengatur atau memanipulasinya.

2. Besar sampel

Makin besar sampel yang diambil akan semakin besar atau tinggi taraf representativeness sampel tersebut. Jika populasinya homogen secara sempurna, besarnya sampel tidak mempengaruhi tarag representativeness sampel.

3. Teknik penentuan sampel

Makin tinggi tingkat rambang dalam penentuan sampel, akan makin tinggi pula tingkat representativeness sampel.

4. Kecermatan memasukkan ciri-ciri populasi dalam sampel.

Makin lengkap ciri-ciri populasinya yang dimasukkan ke dalam sampel, akan makin tinggi tingkt representativeness sampel.


Thursday, 5 August 2021

Kelas X. 2. Prinsip, Konsep dan Pendekatan Geografi

Konsep Geografi


1. Lokasi

Lokasi atau disebut juga sebagai letak adalah suatu tempat dimana adanya kaitan dengan suatu objek yang ada di muka bumi. Untuk itu, jika berbicara secara umum konsep lokasi dapat dibagi dua yaitu absolut dan juga lokasi relatif.

Lokasi Absolut – Lokasi absolut adalah sebuah letak pada suatu daerah yang dilihat dari garis bujur dan juga garis lintang.

Lokasi Relatif – Untuk lokasi relatif adalah suatu tempat ataupun letak yang dapat dilihat dari daerah lainnya yang memang berada pada sekitarnya.

2. Jarak

Jarak juga dapat dikatakan termasuk ke dalam salah satu konsep dasar mengenai geografi. Dimana di dalam kehidupan jarak ini memiliki arti yang memang sangat penting sekali. Oleh karena itu, jika dilihat secara umum, konsep jarak ini dibagi dua yaitu seperti jarak mutlak dan jarak relatif.

Jarak Mutlak – Jarak mutlak atau disebut juga dengan jarak absolut merupakan jarak geometrik yang memang dinyatakan sebagai satuan panjang meter (m) ataupun kilometer (km). Konsep pada jarak ini memiliki sifat yang tetap dan tidak dapat di ubah-ubah.

3. Keterjangkauan

Berikutnya yaitu keterjangkauan. Dimana maksudnya disini adalah kemudahan akses jarak tempuh untuk menuju suatu titik. Jika diartikan dengan kata lain adalah dimana jarak tersebut mampu dicapai dengan sangat maksimal pada satu wilayah ke wilayah yang lainnya.

4. Pola

Geografi ini tentu memiliki pola atau disebut juga sebagai pattern. Dimana pola ini adalah sebuah bentuk, struktur dan juga persebaran kejadian ataupun fenomena yang ada di permukaan bumi, baik itu mengenai gejala alam ataupun gejala sosial.

5. Geomorfologi

Geomorfologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari mengenai bentuk permukaan bumi. Pada ilmu geografi memang tidak pernah lepas dari yang namanya bentuk-bentuk permukaan bumi yaitu seperti dataran, pegunungan, lembah hingga bukit sehingga hal ini dapat menyebabkan permukaan bumi tersebut menjadi sebuah objek studi pada ilmu geografi.

6. Aglomerasi

Aglomerasi memiliki pengertian yaitu dimana kecenderungan pengelompokan terhadap suatu gejala yang terkait langsung dengan aktivitas manusia di bumi ini. pengelompokkan seperti ini memang dilakukan sebagai salah satu objek studi pada geografi.

7. Nilai Kegunaan

Nilai kegunaan ini dapat dinyatakan ada kaitannya dengan konsep geografi. Dimana nilai kegunaan ini yaitu merupakan manfaat yang memang diberikan pada suatu wilayah yang ada di muka bumi khususnya pada makhluk hidup dan tidak akan pernah sama pada semua orang.

Tidak hanya itu saja, manfaat yang dihasilkan tentu bersifat sangat reaktif sehingga memiliki potensi sebagai penunjang perkembangan pada suatu wilayah.

8. Interaksi atau Interdependensi

Interaksi atau interdependensi adalah hubungan yang terjadi yang memang dapat saling mempengaruhi pada suatu gejala dengan gejala yang lainnya. Jika melihat definisi lainnya yaitu dimana mencakup keterkaitan ataupun ketergantungan pada suatu daerah dengan daerah yang lainnya sehingga dapat saling memenuhi untuk kebutuhannya.

9. Diferensiasi Areal

Diferensiasi areal adalah sebuah fenomena yang berbeda yang berada di satu tempat dengan tempat yang lainnya. Diferensiasi areal ini juga membandingkan pada dua wilayah untuk dapat menunjukkan adanya sebuah perbedaan yang terjadi antara satu wilayah dengan wilayah yang lainnya, karena untuk setiap wilayah tentu akan memiliki karakteristik tersendiri ataupun unik.

10. Keterkaitan Ruang

Keterkaitan ruang adalah sebuah hubungan yang berhubungan langsung antara suatu fenomena dengan fenomena yang lainnya sehingga merupakan sebuah keterkaitan keruangan. Hal seperti ini dapat mendorong terjadinya sebab dan akibat yang terjadi antar wilayah.



Prinsip Geografi

Prinsip-prinsip geografi terdiri dari:

1. Prinsip Distribusi ataupun Penyebaran

Prinsip yang pertama adalah prinsip distribusi atau penyebaran yang merupakan dan termasuk kedalam salah satu prinsip geografi yang paling utama. Fungsi dari prinsip distribusi atau penyebaran ini biasanya digunakan untuk menelaah fenomena ataupun gejala pada geografi yang memang tersebar pada permukaan bumi secara tidak merata dan secara tidak sama.

Untuk prinsip yang pertama ini memang melelah tentang fenomena geografi, dimana fenomena tersebut dapat diteliti yaitu seperti tumbuhan, hewan, manusia hingga bentang alam. Tujuan lain yang digunakan pada prinsip penyebaran ini adalah dapat mengungkapkan hubungan yang terjadi pada satu fenomena dengan fenomena yang lainnya yang dilakukan secara menyeluruh.

2. Prinsip Interelasi atau Keterkaitan

Selanjutnya yaitu prinsip interelasi atau keterkaitan. Dimana fungsi pada prinsip ini dapat digunakan untuk menelaah sebuah hubungan yang memang saling terkait dengan gejala yang ada mengenai satu dengan gejala geografi yang lainnya pada suatu ruang.

Tujuan dari prinsip ini yaitu dapat berfungsi untuk menguraikan sebuah hubungan yang ada pada ruangan tersebut mengenai gejala antara satu dengan gejala yang lainnya. Untuk itu adanya hubungan yang memang saling terkait antara manusia dan alam tentu akan membutuhkan prinsip keterkaitan ini atau dapat dikatakan sebagai sebab akibat.

Prinsip interelasi ini akan dapat terjadi mengenai antara manusia dengan manusia, alam dengan manusia hingga alam dengan alam.

3. Prinsip Deskripsi atau Penggambaran

Fungsi pada prinsip ini dapat digunakan untuk memberikan sebuah penjelasan mengenai lebih jauh tentang gejala-gejala yang memang terjadi di muka bumi ini sehingga dapat diamati. Pada prinsip deskripsi ini memberikan sebuah penjelasan yang lebih dalam mengenai bagaimana karakteristik tentang gejala-gejala geografi secara spesifik.

4. Prinsip Korologi atau Gabungan

Tujuan dari prinsip korologi atau gabungan ini adalah menelaah mengenai gejala, fakta hingga permasalahan yang ada pada suatu tempat yang akan ditinjau dari persebarannya, interaksi, interelasi hingga integrasinya pada ruang tertentu.


 

Aspek Geografi

Jika berbicara masalah aspek geografi tentu aspek geografi ini memiliki 2 macam aspek yang dapat Anda lihat seperti dibawah ini.

1. Aspek Fisik

Aspek fisik adalah sebuah aspek yang mengkaji langsung mengenai segala fenomena geosfer yang dapat mempengaruhi keberlangsungan hidup pada manusia.

2. Aspek Sosial

Aspek sosial adalah aspek yang membahas suatu fenomena yang terjadi pada geosfer yang memang masih berhubungan langsung dengan kegiatan manusia.

Pendekatan Geografi

Ada tiga pendekatan geografi yang perlu anda ketahui sebagai berikut:

1. Pendekatan Spasial atau Keruangan

Pendekatan spasial atau keruangan ini merupakan sebuah pendekatan yang sangat khas yang ada di dalam geografi. Dimana pendekatan yang pertama ini memiliki studi mengenai keragaman ruang pada muka bumi serta menelaah masing-masing mengenai aspek keruangannya.

2. Pendekatan Ekologi atau Lingkungan

Pada pendekatan ekologi ini didasarkan pada sebuah prinsip mengenai ilmu biologi yang merupakan interelasi yang dapat menonjol mengenai makhluk hidup dengan lingkungannya. Tujuan yang dilakukan mengenai pendekatan ini adalah agar dapat mengkaji fenomena geosfer serta dapat memperhatikan interaksi antara organisme dengan lingkunganya.

3. Pendekatan Regional atau Kompleks Wilayah

Pendekatan regional atau disebut juga dengan kompleks wilayah dapat dilakukan dengan cara membandingkan berbagai kawasan yang ada di muka bumi serta memperhatikan aspek keruangan dan juga lingkungan dengan cara komprehensif.


Monday, 19 April 2021

Kelas . XI. Sem 2. Kebudayaan

Pengertian Kebudayaan

Apa itu kebudayaan?

Koentjaraningrat berpendapat bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan adalah perilaku, cara orang bertindak, melakukan sesuatu dengan kesadaran yang didorong oleh akal sehat. Karena perilaku tanpa akal sehat, adalah perilaku kesurupan yang didorong oleh akal lain di luar akal sehat. Kebudayaan juga merupakan hasil. Sesuatu yang telah diciptakan oleh manusia.

Kemudian kebudayaan adalah hasil tersebut merupakan hasil belajar. Ada tingkatan dalam penurunan kebudayaan dengan belajar, dari proses imitasi, proses memahami, mengaplikasi, sampai dengan inovasi. Hasilnya adalah tata-tata kehidupan masyarakat.


Senada dengan Koentjaraningrat, Ralph Linton yang menyatakan bahwa:

“The culture of a society is the way of life of its members; the collection of ideas and habits which they learn share and transmit from generation to generation.”


Kebudayaan adalah cara hidup anggotanya; merupakan kumpulan gagasan dan kebiasaan yang mereka pelajari dan ajarkan, kemudian mereka teruskan secara turun-temurun.

Sementara Clifford Geertz memberikan catatan bahwa kebudayaan adalah:

“a system of inherited conceptions expressed in symbolic forms by means of which men communicate, perpetuate, and develop their knowledge about and attitudes toward life.”


Kebudayaan merupakan sistem konsepsi yang diwariskan dan diekspresikan atau dikecualikan hanya dalam bentuk simbolis yang dengannya manusia berkomunikasi, melanggengkan, dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang dan sikap terhadap kehidupan. Dengan demikian Geertz hanya memasukkan dalam ranah kebudayaan adalah yang berbentuk simbol. Seperti bahasa, gestur, simbol-simbol dalam kesenian dll.

Apa saja wujud kebudayaan?

Kebudayaan secara universal atau keseluruhan memiliki unsur – unsur tertentu, antara lain:

  1. Bahasa;
  2. sistem kepercayaan;
  3. ilmu pengetahuan;
  4. sistem teknologi;
  5. sistem kekerabatan;
  6. sistem mata pencarian;
  7. kesenian.

Pengaruh Geografi terhadap Keberagaman Budaya di Indonesia

Indonesia dengan masyarakatnya yang multikultural turut dipengaruhi oleh kondisi geografi Indonesia yang tidak homogen. Indonesia sebagai negara kepulauan juga merupakan isolasi yang cukup kuat melestarikan keragaman budaya tersebut.


Dalam Sensus Penduduk 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tersedia 1331 kategori suku. Sejumlah 1331 kategori itu merupakan kode untuk nama suku, nama lain atau alias suatu suku, nama sub suku, bahkan nama sub dari sub suku. Suku Jawa adalah suku terbesar dengan proporsi 40,05 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Menempati posisi kedua adalah Suku Sunda sebesar 15,50 persen. Selanjutnya suku-suku lainnya memiliki proporsi di bawah lima persen penduduk Indonesia.

Jumlah bahasa daerah di Indonesia yang terdata oleh Badan Pengembangan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Kebudayaan mencapai 652 bahasa daerah. Dari jumlah bahasa daerah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia tersebut, paling banyak ada di Provinsi Papua, yakni sekitar 400-an bahasa.

Bahasa daerah di Papua terdata sangat banyak karena antara satu komunitas dengan komunitas lainnya memiliki bahasa masing-masing yang di antara mereka saling tidak memahami.

Beberapa faktor geografi yang berpengaruh terhadap keragaman budaya di Indonesia antara lain:

Iklim, Iklim mampu mempengaruhi pola kehidupan manusia. Manusia yang hidup di suatu daerah harus beradaptasi dengan tempat yang mereka tinggali. Udara di tempat dia tinggal, kelembaban juga curah hujan dan lama penyinaran matahari juga ikut mempengaruhi hal ini. menurut Koppen, ada tiga iklim besar yang terdapat di wilayah Indonesia, Af, Am, dan Aw. Dari tropis basah, sedang hingga tropis kering. Kemudian morfologi Indonesia yang beragam turut mempengaruhi perbedaan iklim di tiga wilayah iklim tersebut. Dalam cara berpakaian misalnya, orang-orang yang bermukim di wilayah dingin akan menggunakan pakaian yang lebih tebal dan bahan yang memberikan hangat dari pada mereka yang tinggal di daerah hangat.

Morfologi dan ketinggian tempat, morfologi dan ketinggian menurut Junghun berpengaruh terhadap tanaman yang dapat tumbuh, hal ini pada kebudayaan amat menentukan bagaimana cara dan bagaimana penduduk bercocok tanam. Orang bali yang tinggal di tempat pegunungan memanfaatkan kemiringan lereng untuk mengaliri sawahnya dengan sistem subak.

Laut, Indonesia merupakan negara kepulauan tentu memiliki budaya maritim yang kuat, arus laut yang berbeda-beda di laut Indonesia diadaptasi dengan cara yang berbeda-beda pula. Kita mengenal perahu bercadik dan tidak bercadik pada nelayan Indonesia. Nelayan pantai selatan Jawa memiliki perahu bercadik karena ombak laut selatan terkenal ganas.

Sungai, Sungai-sungai besar dan panjang yang airnya mengalir sepanjang tahun karena curah hujan yang tinggi. Menjadi rahim dari lahirnya banyak kerajaan-kerajaan besar di Nusantara. Sriwijaya, Kutai kerta negara yang terkenal dengan transportasi airnya. Selain itu sungai telah lama dimanfaatkan orang Indonesia untuk sistem irigasi. Bukankah budaya feodal juga lahir dari penguasaan atas sumber-sumber pengairan.

Keragaman budaya yang dimiliki Indonesia adalah manifestasi interaksi masyarakat dengan alam Indonesia yang heterogen. Keragaman ini adalah karunia yang harus disyukuri.

Persebaran Keragaman Budaya Indonesia

Sensus Penduduk 2010 mengelompokkan seluruh wilayah administrasi Indonesia menjadi tujuh wilayah atau pulau, yang secara histori merupakan asal komunitas suku bangsa tertentu. Ketujuh wilayah tersebut adalah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.


Koentjaraningrat menilai, klasifikasi suku bangsa Indonesia masih berdasarkan sistem lingkaran hukum adat yang disusun oleh van Vollenhoven. Menurut van Vollenhoven, ada 19 lingkaran hukum adat di Indonesia sebagai berikut:


Aceh;

Gayo-Alas dan Batas,. Nias dan Batu;

Minangkabau, . Mentawai;

Sumatra Selatan, . Enggano;

Melayu;

Bangka dan Biliton (Belitung);

Kalimantan;

Minahasa,  Sangir Talaud;

Gorontalo;

Toraja;

Sulawesi Selatan;

Ternate;

Maluku,  Kepulauan Barat Daya;

Nugini;

Timor;

Bali-Lombok;

Jawa Tengah dan Jawa Timur;

Surakarta-Yogyakarta;

Jawa Barat.

Salah satu unsur kebudayaan adalah bahasa. Secara tipologis, bahasa daerah Indonesia dapat dibedakan ke dalam rumpun bahasa Austronesia, dan rumpun bahasa Papua.


Rumpun bahasa Austronesia merupakan mayoritas di Indonesia, sekitar 66 % adalah rumpun bahasa ini. Rumpun bahasa ini tersebar dari Taiwan dan Hawaii di ujung utara sampai Selandia Baru di ujung selatan, dan dari Madagaskar di ujung barat sampai Pulau Paskah di ujung timur. Persebaran Austronesia terjadi karena leluhur Austronesia melakukan migrasi ke Filipina. Dari sini kemudian menyebar ke pulau-pulau di Nusantara. Secara genealogis, bahasa-bahasa Austronesia terdiri dari tiga kelompok: 1) Melayu-Polinesia Barat (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, Sumbawa bagian barat). 2) Melayu-Polinesia Tengah (Sunda kecil, mulai Sumbawa bagian timur ke arah timur, kecuali Halmahera). 3) Halmahera Selatan-Papua Barat.

Rumpun bahasa Papua, tersebar di Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.

Pembentukan Kebudayaan Nasional

Bangsa Indonesia yang plural, terbentuk atas beragam etnis, agama, dll. bukan hanya pengaruh dari dalam, dari luar pun turut mewarnai kebudayaan Indonesia, lewat proses asimilasi dan akulturasi. Kebudayaan Indonesia telah dipengaruhi Hindu-Budha yang datang dari India sejak 400 tahun sebelum Masehi. Mahabharata dan Ramayana telah banyak diadaptasi dalam kebudayaan Indonesia bahkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya telah mengakar pada kepribadian orang Indonesia.


Selain Hindu-Budha, kebudayaan Islam juga telah beradaptasi di Indonesia, sejak awal abad ke 13. Bahkan Islam kini menjadi agama mayoritas orang Indonesia. Kebudayaan Barat masuk ke Indonesia sejak orang Portugis pertama mendarat di Nusantara, menyebarkan agama Katolik, dan orang-orang Belanda mendarat di Nusantara sekitar tahun 1500 Masehi membawa agama Protestan.


Bukanlah hal mudah untuk mempersatukannya dalam wujud kebudayaan nasional yang tunggal. Perbedaan ini harus diterima dengan satu kontrak kebangsaan Bhinneka Tunggal Ika. Sehingga seluruh perbedaan dapat menyetu dalam Indonesia. Bent Anderson, menuliskan bingkai nasionalisme Indonesia ini bagai the imagine society (komunitas yang dibayangkan).


Konsep tentang kebudayaan Indonesia yang kemudian diperjelas menjadi kebudayaan nasional (Indonesia) atau kebudayaan bangsa bukan merupakan pembahasan baru dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia.


Sutan Takdir Alisyahbana, menyebutkan bahwa kebudayaan nasional Indonesia sebagai suatu kebudayaan yang universal. Unsur-unsur dikreasikan terutama yang masih langka dan dimiliki masyarakat Indonesia masa itu, yaitu: teknologi, ekonomi, keterampilan berorganisasi, ilmu pengetahuan.


Sementara tokoh budayawan lian, Poerbatjaraka menggariskan bahwa kebudayaan nasional Indonesia harus berakar pada kebudayaan Indonesia sendiri, artinya harus berakar pada kebudayaan suku-suku bangsa yang ada di Nusantara. Dianjurkan pula agar manusia Indonesia banyak mempelajari sejarah kebudayaan sendiri.


Menurut Ki Hajar Dewantara, kebudayaan nasional Indonesia adalah puncak kebudayaan daerah. Dalam hal ini ia telah memasukkan aspek mutu karena ungkapan puncak berarti unsur-unsur kebudayaan daerah yang paling tinggi mutunya.


Keajekan konsep kebudayaan nasional ini dianggap penting karena selain di dalamnya termuat berbagai pedoman nilai juga mencerminkan simbol identitas bangsa, sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 sebagai berikut:


Undang-undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 32 menyatakan bahwa Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Selanjutnya, penjelasan pasal tersebut menyatakan bahwa kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya, dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.


Menurut Undang-undang RI Nomor 5 tahun 2017, Pemajuan Kebudayaan dilaksanakan berlandaskan Pancasila, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Dan asas pemajuan kebudayaan Indonesia adalah:

  1. toleransi;
  2. keberagaman;
  3. kelokalan;
  4. lintas wilayah;
  5. partisipatif;
  6. manfaat;
  7. keberlanjutan;
  8. kebebasan berekspresi;
  9. keterpaduan;
  10. kesederajatan; dan
  11. gotong royong.

Objek Pemajuan Kebudayaan meliputi:

  1. tradisi lisan;
  2. manuskrip;
  3. adat istiadat;
  4. ritus;
  5. pengetahuan tradisional;
  6. teknologi tradisional;
  7. seni;
  8. bahasa;
  9. permainan rakyat; dan
  10. olahraga· tradisional.

Pelestarian dan Pemanfaatan Produk Kebudayaan Indonesia dalam Bidang Ekonomi Kreatif dan Pariwisata

Banyak karya-karya kebudayaan tradisional Indonesia yang hampir punah bahkan punah. Anak-anak muda tidak mau lagi memakai, menggunakan, atau mempelajarinya karena menganggapnya telah ketinggalan zaman. Hal ini sangat disayangkan karena banyak dari budaya kita baru disadari ternyata memiliki nilai yang amat tinggi. Hal ini sebenarnya wajar, karena kebudayaan adalah sesuatu yang dinamis, dapat berubah sesuai perkembangan zamannya.


Jadi cukup tepat jika sub judul ini adalah “pelestarian”. Karena makna lestari lebih condong pada awet, “pengawetan”. Dalam satu wawancara dengan Hari Rusli (Almarhum) seniman Bandung. Menurut beliau, Sulit bagi kita untuk memaksa anak muda untuk terus mencintai kesenian-kesenian tradisional, karena zamannya memang sudah berubah. Yang kita bisa hanyalah memasukkan jenis-jenis karya kesenian yang kita miliki ke dalam museum, beserta dengan perangkat-perangkat untuk mempelajarinya. Sehingga suatu saat nanti ketika adalah orang yang mau belajar, jelas tempat di mana orang harus belajar, dan karya-karya tersebut tidak punah.


Seperti seni pertunjukan wayang misalnya. Sekarang ini seni pertunjukan wayang selalu sepi penonton seperti dulu ketika jamannya. Namun dengan adanya museum wayang, serta jurusan pewayangan di universitas-universitas kesenian. Masih banyak generasi muda yang mau belajar seni pewayangan, sehingga wayang masih dapat terus lestari.


Selain dengan menyimpan dan mengawetkannya di tempat yang tepat seperti museum dan sekolah. Yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan revitalisasi kebudayaan tradisional sehingga kesenian tradisional dapat beradaptasi dengan perkembangan jaman dan kembali menjadi tren. Salah satu yang berhasil direvitalisasi adalah batik. Bahkan batik Indonesia telah diakui sebagai warisan budaya dunia.


Batik Budaya Indonesia diakui Dunia

Batik yang sempat tenggelam karena perkembangan zaman. Lewat usaha semua pihak, termasuk dukungan pemerintah batik kembali menjadi kesenian populer. Kesenian batik sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Bati adalah seni lukis di atas kain dengan metode yang khas zaman dahulunya hanya digunakan oleh kalangan bangsawan kerajaan saja. Karena banyak dari kalangan bangsawan yang pergi ke luar istana dan mengenakan batik maka batik juga menjadi populer digunakan oleh rakyat kebanyakan.

Batik juga merupakan simbol lahirnya pergerakan kemerdekaan Indonesia. Lahirnya organisasi Serikat Islam (SI) di dahului oleh kelahiran Serikat Dagang Islam (SDI) yang merupakan perkumpulan para pedagang batik. Masuknya pakaian ala barat perlahan menenggelamkan batik sebagai pakaian nasional Indonesia.

Para perancang busana modern Indonesia, memasukkan batik sebagai bahan dasar rancangannya hingga batik seperti lahir kembali dalam wujudnya yang lebih modern. Pemerintah mencanangkan hari batik nasional. Pakaian batik dijadikan salah satu pakaian dinas harian, tidak hanya di instansi pemerintah, juga di perusahaan swasta dan sekolah. Untuk menghadiri acara pernikahan, wisuda, dll. Bahkan batik juga dapat menjadi pakaian sehari-hari.

Pasar batik kembali menggeliat. Pengrajin batik terus bertambah, tidak hanya di pasar tradisional batik juga masuk pada pasar modern. Batik kembali menjadi peluang pasar yang seksi untuk memperoleh keuntungan.

Masih lebih banyak lagi produk kebudayaan Indonesia yang bisa kembali menjadi tren, sehingga kembali dapat dinikmati masyarakat. Ini perlu digali lebih dalam. Dalam hal butuh strategi kebudayaan yang efektif, agar produk kebudayaan lokal kita yang hampir punah kembali tampil sebagai sesuatu yang baru dan inovatif.


Kebudayaan dan Pariwisata

Ditilik dari laman detik.com (17/10/2017) Pariwisata menjadi primadona baru bagi sektor pembangunan. Karena pemasukan dari devisa dan tenaga kerja memperolah angka yang cukup signifikan.

Devisa dari sektor pariwisata pada 2016 sebesar US$ 13,568 miliar berada di posisi kedua setelah CPO US$ 15,965 miliar. Pada 2015, devisa dari sektor pariwisata sebesar US$ 12,225 miliar atau berada di posisi keempat di bawah Migas US$ 18,574 miliar, CPO US$ 16,427 miliar, dan batu bara US$ 14,717 miliar.


Pariwisata bagi Indonesia adalah sesuatu yang sangat potensial. Potensial untuk lebih banyak lagi mendatangkan keuntungan utamanya untuk menambah pendapatan negara (GNP). Potensi tempat-tempat kunjungan wisata Indonesia sangat banyak. Kalau dulu kita hanya kenal Bali dan Yogyakarta, sekarang banyak orang datang ke Papua untuk menikmat Raja Ampat, datang ke Labuan Bajo untuk melihat komodo, datang ke Lombok. Dll.


Ada banyak alasan wisatawan mau berkunjung ke Indonesia. Antara lain:

  1. Alam Indonesia yang indah;
  2. Orang-orang Indonesia yang ramah;
  3. Makanan tradisional Indonesia yang lezat;
  4. Kekayaan tradisi Indonesia; dan
  5. Biaya hidup yang murah.

Selain alam Indonesia yang Indah, ternyata kebudayaan Indonesia yang kaya menjadikan para turis, suka datang dan betah tinggal di Indonesia. Adat ketimuran orang-orang Indonesia terkenal ramah. Sopan-santun dan budi pekerti adalah warisan nenek moyang yang patut dijaga eksistensinya. Kemudian kekayaan Indonesia dengan aneka rempah, juga kecerdasan bangsa Indonesia dalam meramu bumbu-bumbu tersebut menjadikan masakan Indonesia terkenal lezat-lezat. Nasi orang telah mendunia, rendang pernah ditulis oleh satu majalah internasional sebagai makanan terlezat di dunia, dan banyak lagi.


Indonesia ada negara yang kaya akan tradisi, bahkan pendukung tradisi itu sangat banyak dan sangat kuat mempertahankannya. Kebanyakan dari karya-karya kesenian kita adalah kesenian tradisi yang tidak lepas dari unsur penyembahan pada yang kuasa. Bali terkenal sebagai tempat wisata dunia, selain karena alamnya yang indah, juga karena tradisi-tradisinya yang unik.


Secara statistik kunjungan wisatawan manca negara Indonesia masih kalah dengan negara tetangga seperti Thailand, atau Singapura. Tapi harus diyakini potensi pariwisata Indonesia jauh lebih besar dari kedua negara tersebut. Luas wilayah Indonesia, panjang garis pantai, pulau-pulau yang ribuan jumlahnya, keanekaragaman suku dan tradisi, semuanya adalah potensi bagi pengembangan pariwisata di Indonesia.


Hubungan antara kebudayaan dan pariwisata sangat lah erat dan kuat. Tetap terjaga dan lestarinya kebudayaan kita dengan mempertahankan kedinamisannya adalah modal kuat untuk mendapatkan pendapatan negara yang lebih besar dari sektor pariwisata.


Ekonomi Kreatif

Ekonomi kreatif adalah suatu konsep perekonomian di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengedepankan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang paling utama.


Beberapa ciri ekonomi kreatif antara lain:


Terdapat beberapa unsur utama seperti kreativitas, keahlian, dan talenta yang memiliki nilai jual melalui penawaran kreasi intelektual.

Produk yang dihasilkan (barang dan jasa) memiliki siklus hidup singkat, margin tinggi, beraneka ragam, persaingan tinggi, dan dapat ditiru.

Terdiri atas penyediaan produk kreatif langsung pada pelanggan dan pendukung penciptaan nilai kreatif pada sektor lain yang secara tidak langsung berhubungan dengan pelanggan.

Dibutuhkan kerja sama yang baik antara berbagai pihak yang berperan dalam industri kreatif, seperti kaum intelektual, dunia usaha, dan pemerintah.

Creative economy berbasis pada ide atau gagasan.

Pengembangan industri kreatif tidak terbatas dan dapat diterapkan pada berbagai bidang usaha.

Konsep creative economy yang dibangun bersifat relatif.

Yang termasuk dalam ekonomi kreatif antara lain:

  1. Periklanan
  2. Arsitektur
  3. Pasar barang seni
  4. Kerajinan (handicraft)
  5. Kuliner
  6. Desain
  7. Fashion
  8. Film, video, dan fotografi
  9. Musik
  10. Seni pertunjukan
  11. Penerbitan dan percetakan
  12. Layanan komputer dan piranti lunak
  13. Radio dan televisi
  14. Riset dan pengembangan
  15. Kebudayaan Indonesia Sebagai Bagian dari Kebudayaan Global

Thomas L. Friedman, dalam bukunya yang berjudul World is Plat yang menganalisis globalisasi pada awal abad ke-21 mengungkap perkembangan perdagangan Internasional dan internet telah jauh menggeser perekonomian dan kebudayaan dunia. India lahir sebagai kekuatan baru dengan perkembangan industri internet dan sumber daya manusianya yang mumpuni. Kemampuan generasi milenial India untuk memecahkan masalah millennium bug bagi dunia komputer internet, telah menghantarnya India pada perekonomian yang lebih maju. Industri perfilman India “Bollywood”, adalah satu jenis kebudayaan Indonesia yang berhasil diimpor ke seluruh dunia.


Selain India, China juga berkembang pesat sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi terpesat di dunia. Kemampuan China untuk mengimitasi produk-produk dunia. Menempatkan China sebagai negara industri baru yang amat disegani. Majalah Forbes tahun 2019 merilis, China adalah negara penghasil orang kaya baru terbanyak di dunia.

Globalisasi tidak hanya menempatkan dunia pada satu pasar bebas, tapi juga transfer kebudayaan bergerak bebas seperti tanpa filter. Tidak tertutup kemungkinan dunia akan menjadi satu dalam satu kebudayaan yang disebut olah Jean Baudrillard, dengan nada yang pesimis sebagai budaya konsumen. Budaya yang telah diciptakan oleh globalisasi dan pasar bebas. budaya konsumen adalah jenis dari “budaya materi” (material culture). Hal ini berangkat dari watak universal manusia yang berusaha mencukupi kebutuhan materialnya. Dalam hal ini, sebagaimana diargumenkan konsumsi yang terjadi dalam semua masyarakat berada “ di luar perdagangan”  atau tidak terbatas pada perdagangan semata, tetapi selalu merupakan gejala budaya sebagaimana halnya sebuah gejala ekonomi.

Globalisasi membawa nilai-nilai baru bagi masyarakat dunia. Telah lahir cara pandang baru masyarakat untuk memberikan nilai atas segala hal. Nilai adalah esensi paling tinggi dari sebuah kebudayaan.


Budaya Post Modern

Jean Baudrillard, Sosiolog Prancis, menulis bahwa ada empat cara suatu benda mendapatkan nilai, pada masyarakat post modern.  


Keempat proses pembuatan nilai adalah:


Nilai fungsional suatu objek; tujuan instrumentalnya (nilai pakai). Pena, misalnya, menulis; kulkas mendingin.

Kedua adalah nilai tukar suatu objek; nilai ekonominya. Satu pena mungkin bernilai tiga pensil; dan satu lemari es mungkin sebanding dengan gaji yang diperoleh selama tiga bulan bekerja;

Ketiga adalah nilai simbolis dari suatu objek; nilai yang diberikan subjek ke objek dalam kaitannya dengan subjek lain. Sebuah pena mungkin melambangkan hadiah kelulusan sekolah siswa atau hadiah pembicara permulaan; atau berlian dapat menjadi simbol cinta perkawinan yang diumumkan secara publik.

Terakhir adalah nilai tanda suatu objek; nilainya dalam sistem objek. Pena tertentu dapat, meskipun tidak memiliki manfaat fungsional tambahan, menandakan prestise relatif terhadap pena lain; cincin berlian mungkin tidak memiliki fungsi sama sekali, tetapi dapat menyarankan nilai sosial tertentu, seperti rasa atau kelas.

Produk-produk kebudayaan tidak lagi memata dilihat dengan nilai fungsional, atau nilai tukarnya, tapi lebih kepada nilai simbolis dan nilai tanda. Banyak orang membeli smart phone Apple, banyak yang didasarkan atas nilai tandanya dari pada nilai fungsionalnya. Brand value, telah menjadi indikator penting bagi keberhasilan suatu usaha. Supermarket telah mengalahkan pasar-pasar tradisional bukan karena pelayanan dan harganya, tapi karena berbelanja di supermarket lebih bergengsi dari pada belanja di pasar tradisional.


Bagaimana dengan produk-produk kebudayaan Indonesia. Apakah produk-produk kebudayaan Indonesia dapat bersaing dengan produk global yang telah memiliki Brand value yang lebih tinggi. Apakah Warteg dapat bersaing dengan Mc Donald dan KFC? Pertanyaan ini mestinya tidak menjadi kerisauan yang berkelanjutan. Kreativitas yang tinggi dibutuhkan untuk Indonesia bisa bersaing dengan produk-produk global.


Dalam dunia post modern, revolusi 4.0, kebudayaan Indonesia mau tidak mau harus berhadapan secara vis to vis dengan budaya global. Jika kalah bersaing kebudayaan Indonesia dapat saja lenyap menyatu dalam budaya globalisasi yang oleh Antony Gidden, digambarkan sebagai truk besar yang bergerak turun tanpa kendali, menggerus apa saja yang ada hadapannya. Indonesia akan kehilangan seluruh identitas kebudayaan nasionalnya.


Sumber:

Yasinto Shindu P, Geografi untuk SMA/MA Kelas IX, Erlangga, Jakarta 2017

https://gurugeografi12.com/ 

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/197210242001121-BAGJA_WALUYA/Pengelolaan_Lingkungan_Hidup_untuk_Tk_SMA/BAB_2_HUBUNGAN_MANUSIA_DAN_LINGKUNGAN.pdf.

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/195903051989011-SYARIF_MOEIS/MAKALAH__3.pdf.